Selasa, 25 Oktober 2011

Landasan Teori


BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Teori Desain Produk
Perusahaan menghasilkan output untuk  memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen akan kepuasan, sehingga output yang dihasilkan seharusnya dapat memuaskan konsumen. Oleh karena itu produk bisa diartikan sebagai kepuasan yang ditawarkan produsen (perusahaan) kepada konsumen. Untuk dapat mencapai maksud tersebut maka sudah selayaknya perusahaan memfokuskan diri pada pengembangan keunggulan bersaing melalui strategi bisnis, diantaranya pembedaan (diferensiasi), biaya rendah (kepemimpinan biaya) , respon cepat (rapid respon) atau konmbinasi diantaranya ketiga strategi tersebut.
Suatu produk yang diciptakan baik berupa barang atau jasa pada umumnya mengalami tahapan kehidupan produk (PLC  = Product Life Cycle) melalui empat tahapan seperti yang terlihat dalam gambar berikut:

Tabel 2.1.1. Produk Life Cycle
(Sumber: Nurhidayati Dwiningsih, SE, MM, Desain Produk dan Manajemen Kualitas)
Keterangan:
I (Introduction) = tahap perkenalan
G (growth) = tahap pertumbuhan
M (Maturity) = tahap kedewasaan
D (Decline) = tahap penurunan

1. PLC (Product Life Cycle) dan Pilihan Strategi
Tahapan PLC
Pilihan Strategi
Perkenalan (Introduction)           
Masih menyesuaikan pasar dan banyak biaya untuk:
1) Riset
2) Pengembangan produk
3) Modifikasi proses, dan
4) Pengembangan pemasok.
Pertumbuhan (Growth)
Desain produk sudah stabil sehingga perlu peramalan kebutuhan kapasitas yang efektif dan perlu peningkatan kapasitas agar dapat memenuhi permintaan

Kematangan (Maturity)
Pesaing sedah dapat dipastikan dan memerlukan inovasi, pengendalian biayaharus lebih baik, meningkatkan keuntungan dengan pembatasan lini produk.

Penurunan (Decline
Produk hamper matimaka mungkin perlu menghentikan produk tersebut dan menggantinya dengan desain produk baru.

2. Analisa Produk berdasarkan nilai (Product by value analysis)                                                       
                        Berdasarkan prinsip pareto yaitu “focus pada permasalahan yang sedikit tetapi penting, maka memilih desain produk yang  cocok seharusnya mengacu pada prinsip tersebut. Sehingga perlu menerapkan analisa produk berdasarkan nilai (product by value analysis) yaitu mengurutkan produk dari yang tertinggi ke yang terendah berdasarkan kontribusi niali uang dari masing-masing produk bagi perusahaan. Analisis tersebut juga mengurutkan kontribusi pendapatan total tahiunan dari  tiap produk, sehingga apabila kontribusi per unit rendah mungkin akan terlihat berbeda jika tingkat penjualannya tinggi.
2.1.1. Penciptaan Produk Baru
         Produk yang dihasilkan perusahaan, dalam perjalanannya tentunya mengalami tahapan seperti yang sesuai siklus hidupnya, sehingga pemilihan produk, pendefinisian produk maupun desain produk perlu secara terus menerus diperbaharui . Oleh karenanya mengetahui bagaimana menciptakan dan mengembangkan produk baru dengan berhasil sudah merupakan suatu kewajiban perusahaan yang ingin terus hidup.
2.1.1.1. Peluang Penciptaan Produk Baru
Keadaan yang memberikan peluang munculnya produk baru diantaranya adalah:
·         Pemahaman Konsumen
·         Perubahan Ekonomi
·         Perubahan Sosiologis dan demografis
·         Perubahan Teknologi
·         Perubahan Politik/Peraturan
·         Perubahan yang lain seperti: praktek di pasar, standar profesi, supplier, distributor
2.1.1.2.  Pentingnya Produk Baru
          Perusahana perlu terus menerus melakukan upaya penciptaan produk baru atau pembaharuan produk karena untuk dapat mengimbangi persaingan yang dihadapi diantaranya produk substitusi maupun perubahan kebutuhan dan keinginan konsumen. Walaupun pada kenyataannya  seringkali produk baru banyak yang gagal untuk dapat dipasarkan akan tetapi usaha yang terus-menerus untuk memperkenalkan produk baru harus tetap dilakukan . Oleh karenanya seleksi produk, pendefinisian produk maupun desain produk sangat penting dilakukan terus menerus sehingga manajer operasi dan organisasinya harus memahami resiko kegagalan yang mungkin terjadi. Dan harus menampung banyak produk baru sementara aktifitas yang dijalankan tetap dilakukan.
2.1.2. Sistem Pengembangan Produk
Sistim pengembangan produk bukan hanya demi keberhasilan produk tetapi juga untuk kepentingan masa depan perusahaan. Oleh karena itu melakukan pengembangan produk memerlukan tahapan sebagai berikut:
2.1.2.1. Tahapan Pengembangan Produk
Ide  yang bisa berasal dari berbagai sumber dari dalam perusahaan misalnya bagian Riset dan Pengembangan dan dari luar melalui pemahaman perilaku konsumen, persaingan, teknologi, pekerja, persediaan. Tahapan ini menjadi dasar untuk memasuki pasar dan biasanya mengikuti strategi pemasaran yang dilakukan perusahaan.
·         Kemampuan yang dimiliki perusahaan untuk merealisasikan ide. Dengan melakukan koordinasi dari berbagai bagian yang terkait di perusahaan yang bersangkutan.
·         Permintaan  konsumen untuk menang dalam bersaing dengan cara mengidentifikasi posisi dan manfaat produk yang diinginkan konsumen melaului atribut tentang produk.
·         Spesifikasi fungsional :Bagaimana suatu produk bisa berfungsi? Dengan melalui identifikasi karakteristik engineering produk, kemungkinan dibandingkan dengan produk dari pesaing.
·         Spesifikasi produk  : Bagaimana produk dibuat? Melaui spesifikasi fisik seperti ukuran, dimensi.
·         Review desain: Apakah spesifikasi produk sudah yang terbaik dalam memenuhi kebutuhan konsumen ?
·         Tes pasar: Apakah produk memenuhi harapan konsumen ? Untuk memastikan prospek ke depannya melalui perjualan dalam jumlah besar.
·         Perkenalan di pasar dengan memproduksi secara masal untuk dipasarkan.
·         Evaluasi: untuk mengukur sukses atau gagal, karena apabila gagal secara cepat bisa diganti produk lain.yang lebih menguntungkan.
2.1.2.2.  Quality Function Deployment (QFD)
          Adalah suatu proses menetapkan keinginan pelanggan tentang “apa yang diinginkan konsumen” dan menterjemahkannya menjadi atribut “bagaimana agar tiap area fungsional dapat memahami dan melaksanakannya. Alat yang digunakan dalam QFD adalah rumah kualitas (house  of quality) yaitu merupakan teknik grafis untuk menjelaskan hubungan antara keinginan konsumen dan produk (barang atau jasa). Ada  enam langkah dasar untuk membuat rumah kualitas yaitu:
·         Identifikasi keinginan konsumen.
·         Identifikasi bagaimana produk akan memuaskan keinginan konsumen.
·         Hubungkan langkah 1 dan 2.
·         Identifikasi hubungan diantara sejumlah hal dalam perusahaan pada konsep bagaimana pada perusahaan.
·         Kembangkan tingkatan kepentingan.
·         Evaluasi produk pesaing.
2.1.2.3.  Manufacturability dan Value Engineering
           Adalah aktifitas yang menolong memperbaiki desain, produksi, pemeliharaan dan penggunaan sebuah produk. Hal ini dilakukan dengan tujuan antara lain:
·         Mengurangi kompleksitas produk.
·         Standardisasi tambahan dari komponen.
·         Perbaikan aspek fungsional produk.
·         Memperbaiki desain pekerjaan dan keamanan pekerjaan.
·         Memperbaiki kemudahan pemeliharaan produk.
·         Desain yang tangguh
2.2. Teori Metodologi Penelitian Kualitatif
            Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menangkap fakta-fakta atau fenomena yang ada di lapangan melalui pengamatan, kemudian menganalisanya dan kemudian berupaya melakukan teorisasi berdasarkan apa yang di amati.
            Dalam penelitian ini terdapat beberapa cara dalam pelaksanaannya, yakni:
·         Metode wawancara. Metode ini dibagi menjadi 2, yakni:
1.    Metode wawancara mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara, dimana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan social yang relative lama.
2.    Metode wawancara bertahap, bentuk wawancara kedua ini sedikit lebih formal dan sistematik bila dibandingkan dengan wawancara mendalam, tetapi masih jauh tidak formal dan tidak sistematik bila dibandingkan dengan wawancara. Wawancara dilakukan bertahap dan pewawancara tidak harus terlibat dalam kehidupan social informan.
·         Metode observasi, yang terbagi menjadi:
1.    Observasi partisipasi adalah pengumpulan data melalui observasi terhadap objek pengamatan dengan langsung , merasakan serta berada dalam akivitas kehidupan objek pengamatan.
2.    Observasi tidak berstruktur adalah dilakukan tanpa struktur yang dimana oengamat harus mampu secara pribadi mengembangkan daya pengamatan dalam mengamati suati objek.
3.    Observasi kelompok adalah observasi ini dilakukan secara berkelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus.
·         Metode documenter, merupakan salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian social. Pada intinya, metode ini digunakan untuk menelusuri historis. Yang mencakup data documenter adalah: otobiografi, surat-surat pribadi, buku-buku, kliping, dokumen pemerintah maupun swasta, cerita roman atau rakyat, data di server dan flasdisk, data dari web, dst.
·         Metode bahan visual, “fotografi sebagai pesan yang tak berkode”(Evans dan Hall, 1999:13).Bahan fotografi saat ini jenisnya bermacam-macam seperti foto, grafis, video, kartun, microfilm, slide, dst.
·         Metode penelusuran data online, adalah tata cara melakukan penelusuran data melalui media online seperti internet atau media jaringan lainnya yang menyediakan fasilitas online, sehingga memungkinkan peneliti dapat memanfaatkan dat-informasi online yang berupa data maupun informasi teori, secepat atau semudah mungkin, dan dapat dipertanggung jawabkan secara akademis.
2.3. Teori Ergonomi                                           
“Istilah “ergonomi” berasal dari bahasa latin yaitu ERGON (KERJA) dan NOMOS (HUKUM ALAM) dan dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain atau perancangan” (Nurmianto, 2008).
 Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman, dan nyaman “. (Sutalaksana, 1979)
Ergonomi berkenaan berkenaan pula dengan optimasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan dan kenyamanan manusia ditempat kerja, di rumah, dan di tempat rekreasi. Ergonomi disebut juga sebagai Human Factors. Ergonomi juga digunakan oleh beberapa ahli pada bidangnya misalnya: ahli anatomi, arsitektur , perancangan produk, fisika, fisioterapi, terapi pekerjaan, psikologi, dan teknik industri (definisi ini berdasar pada International Ergonomics Association). Ergonomic dapat berperan pula sebagai desain pekerjaan pada suatu organisasi, misalnya: penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja, meningkatkan variasi pekerjaan. Ergonomi dapat pulaberperan sebagai desain perangkat lunak karena dengan semakin banyaknya pekerjaan yang berkaitan dengan komputer.
2.4. Teori Estetika
"aesthetics is the branch of philosophy that is concerned with the analysis of concepts and the solutions of problems that arise when one contemplates aesthetic objects. Aesthetic objects, in turn, comprise all the objects of aesthetic experience; thus, it is only after aesthetic experience has been sufficiently characterized that one is able to delimit the class of aesthetic objects".( Hospers)
Teori Estetika pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3, yaitu :
2.4.1.    Teori Estetik Formil
Banyak berhubungan dengan seni klasik dan pemikiran-pemikiran klasik. Teori ini menyatakan bahwa keindahan luar bangunan menyangkut persoalan bentuk dan warna. Teori beranggapan bahwa keindahan merupakan hasil formil dari ketinggian, lebar, ukuran (dimensi) dan warna. Rasa indah merupakan emosi langsung yang diakibatkan oleh bentuk tanpa memandang konsep-konsep lain. Teori ini menuntut konsep ideal yang absolut yang dituju oleh bentuk-bentuk indah, mengarah pada mistik.
2.4.2.  Teori Estetik Ekspresionis
Teori menyebutkan bahwa keindahan tidak selalu terjelma dari bentuknya tetapi dari maksud dan tujuan atau ekspresinya. Teori ini beranggapan bahwa keindahan karya seni terutama tergantung pada apa yang diekspresikannya. Dalam arsitektur keindahan dihasilkan oleh ekspresi yang paling sempurna antara kekuatan gaya tarik dan kekuatan bahan (material). Kini anggapan dasar utama keindahan arsitektur adalah ekspresi fungsi atau kegunaan suatu bangunan.
2.4.3.    Teori Estetik Psikologis
Menurut Teori ini keindahan mempunyai 3 aspek :
·         Keindahan dalam arsitektur merupakan irama yang sederhana dan mudah. Dalam arsitektur pengamat merasa dirinya mengerjakan apa yang dilakukan bangunan dengan cara sederhana, mudah dan luwes.
·         Keindahan merupakan akibat dari emosi yang hanya dapat diperlihatkan dengan prosedur Psikoanalistik. Karya seni mendapat kekuatan keindahannya dari reaksi yang berbeda secara keseluruhan.
·          Keindahan merupakan akibat rasa kepuasan si pengamat sendiri terhadap obyek yang dilihatnya.
Ketiga teori ini merupakan manifestasi untuk menerangkan keindahan dari macam-macam sudut pandang : secara mistik, emosional atau ilmiah intelektual.
Teori yang kemudian muncul, seperti dikutip Maryono (1982-81) antara lain adalah teori keindahan Obyektif dan Subyektif. Teori Obyektif berpendapat bahwa keindahan adalah sifat (kualitas) yang melekat pada obyek. Teori Subyektif mengemukakan bahwa keindahan hanyalah tanggapan perasaan pengamat dan tergantung pada persepsi pengamat.
Teori keindahan secara umum menurut dasar pemikiran Timur, seperti diuraikan Sachari (1988 : 29-33), antara lain didasarkan pada hubungan alam dengan semesta (Taoisme), manusia dengan masyarakat (Konfusianisme), hubungan manusia dengan yang mutlak (Budhisme). Keseimbangan alam merupakan ukuran keindahan menurut pemikiran Timur.
2.5. Teori Modern
            Perhiasan modern diawali pada tahun 1940, tepat setelah berakhirnya Perang Dunia ke 2, dengan ketertarikan dan kesenangan baru.  Gerakan modern ini diawali oleh George Jensen dan beberapa seniman lainnya, yang menciptakan perhiasan yang dapat digunakan sehari-hari. Penemuan akan material baru seperti plastic, precious metal clay, teknik pewarnaan, yang membuat model perhiasan lebih kaya lagi. Keuntungan lainnya adalah, pemroduksian mutiara melalui ternak oleh Mikimoto Kokichi, dan  peningkatan kualitas akan bebatuan seperti yang dilakukan moissanite. Yang membuat perhiasan memiliki nilai yang lebih ekonomis untuk dijual ke masyrakat yang lebih luas.
            Pada akhir abad 20, ditemukan sebuah teknik baru dalam pembuatan material yang disebut Mokume Gane. Sebuah teknik dalam melaminasi metal dengan pola yang unik. Beberapa inovasi yang mengawali awal 2000: Mokume-gane, hydraulic die forming, anti-clastic raising, fold-forming, reactive metal anodising, shell forms, PMC, photoetching, and penggunaan CAD/CAM.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar